Taubat, Istighfar, Do'a

Pentingnya Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Memperbanyak Istighfar dan Taubat Kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Marilah kita bertaubat kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima taubat hamba-hamba-Nya. Allah mengampuni dosa, menutupi kesalahan dan aib-aib kita. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk bertaubat dan berjanji akan mengampuni segala kesalahan orang-orang yang benar taubatnya. Dia telah menerangkan tentang hal itu dalam banyak ayat di dalam Alquran. Seperti firman-Nya,

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31)

Di dalam hadits dijelaskan,

“Semua anak Adam banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang-orang yang banyak berbuat kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertaubat.” (HR. at-Tirmidzi)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Allah Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh Allah itu Maha Pengampun dan Allah juga Maha Bersyukur atas sedikit amalan hamba-Nya. Para hamba terkadang lalai dari-Nya. Sementara Allah tidak pernah lalai memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya. Seorang hamba terkadang bersegara dalam berbuat maksiat. Namun Allah tidak pernah bersegera untuk menghukum dan mengadzab mereka. Bahkan Allah mengajak para hamba-Nya kembali kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, lalu Allah mengampuni mereka semua. Melupakan kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. Allah berfirman,

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 74)

Allah membimbing dan menganjurkan hamba-Nya agar beristighfar dan banyak bertaubat kepada-Nya. Selain dosa diampuni, maka mereka juga akan mendapatkan karunia yang banyak. Hujan akan diturunkan.

Jika hujan terus turun dengan keteraturannya, maka taman-taman akan menjadi indah dan meneduhkan. Pohon-pohon kurma, anggur, zaitun, dan buah-buah lainnya yang kita kenal akan mengeluarkan hasil mereka. Demikian pula akan mengalirlah sungai-sungai. Lalu bisa dimanfaatkan oleh seluruh makhluk hidup termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Ini semua merupakan buah dari istighfar.

Lebih dari itu, Allah pun akan menjauhkan adzab bagi negeri yang orang-orang di dalamnya senantiasa memohon ampun, taubat, dan istighfar kepada-Nya,

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfaal: 33)

Istighfar hendaknya ditujukan untuk semua dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar semisal kekufuran dan kesyirikan. Karena Allah berfirman,

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu”. (QS. Al-Anfaal: 38)

Lalu Bagaimana dengan seorang mukmin? Jika seorang kafir saja diampuni, bagaimana dengan seorang mukmin yang bertaubat kepada Allah. Tentu Allah akan mengampuni semua dosa dan kesalahan mereka.

Istighfar sangat dianjurkan dan kita butuhkan di setiap saat. Namun, memang ada waktu-waktu yang istimewa. Ada waktu-waktu yang lebih ditekankan agar kita memperbanyak istighfar di saat-saat tersebut. Allah berfirman kepada penduduk surga,

“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz-Dzaariyat: 16-18)

Padahal mereka mengerjakan shalat malam, namun mereka tetap beristighfar, taubat kepada Allah. Mereka merasa banyak salah dan kekurangan. Demikianlah memang keadaan manusia, walaupun banyak melakukan ketaatan, mereka tetaplah orang-orang yang banyak kekurangannya dalam ketaatan. Karena itu mereka sangat dianjurkan untuk beristighfar dan taubat kepada Allah.

Demikianlah keadaan orang-orang shaleh dan orang-orang yang banyak mengerjakan kebaikan. Apalagi orang-orang yang memang banyak melakukan kesalahan. Tentu mereka lebih ditekankan lagi untuk segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap kali selesai dari mengerjakan shalat wajib, sebelum menoleh ke arah makmum, beliau mengucapkan istighfar dengan menghadap kiblat. Beliau mengucapkan, “Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.”

Orang-orang yang istiqomah sangat butuh akan istighfar. Karena mereka memiliki banyak kekurangan dalam menunaikan hak-hak Allah. Sekali lagi, tentu orang-orang yang suka bermaksiat dan berbuat dosa serta lalai dari Allah, lebih utama lagi untuk istighfar.

Wajib bagi kita semua untuk memperbanyak istighfar. Memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa kita. Menghapuskan seluruh kesalahan kita dan kelalailan kita. Kita adalah orang-orang yang banyak melakukan kekurangan. Begitulah keadaan kita.

Di sisi lain, kita tidak diperkenankan untuk berputus asa dari rahmat Allah. Jangan merasa dosa kita besar, sampai kita mengatakan, “dosa ini sudah tidak diampuni lagi”. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az-Zumar: 53)

Seorang muslim mestinya senantiasa beristighfar dan tidak meninggalkannya walaupun setelah mengerjakan amalan ketaatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai dari suatu majelisnya, beliau beristighfar kepada Allah. Dan beliau dalam sehari lebih dari 70x beritstighfar kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan beristighfarlah kepada-Nya, sesunggunya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)

Para sahabat menghitung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan istighfar dalam satu majelis sebanyak 100x. Dan beliau adalah utusan Allah. Kekasih dan orang yang paling dekat dengan Allah. Apakah orang selain beliau merasa lebih jauh dari dosa?

Karena itu, wajib bagi kita memperbanyak istighfar. Kita hitung dan hisab diri kita atas dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan. Kita istighfari setiap dosa yang kita perbuat. Allah berfirman,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 136)

Maka dari itu, sangat banyak sekali faidah dari istighfar. Wajar jika para nabi menjadikannya sebagai syiar. Mereka beristighfar memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Karena mereka merasa banyak kekurangan. Orang-orang yang berdosa, hendaknya bertaubat dari dosa mereka. beristighfar atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Memohon ampun karena tidak menunaikan hak-hak Allah sebagaimana mestinya.

Tidak seorang pun yang tidak butuh akan istighfar. Lakukan dan dawamkanlah. Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha penerima taubat.

Yang paling utama dari istighfar adalah bahwa ia bukan hanya terletak di bibir saja. hendaknya istighfar dan taubat meresap ke dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Jika istighfar hanya di lisan saja, tidak terbukti dengan amalan, maka apa yang kita taubatkan? Yang demikian tentu tidak akan dilakukan orang-orang yang cerdas dan memiliki pemahaman yang sempurna. Terlebih lagi seorang mukmin.

Jika Anda bertaubat kepada Allah dari suatu dosa, maka konsekuensi logisnya Anda harus meninggalkan dan menjauhi dosa tersebut. Kemudian menggantinya dengan perbuatan taat. Allah tidak akan mengampuni dosa seseorang yang di lisannya bertaubat, tapi secara bersamaan amal perbuatannya masih melanjutkan dosa yang ia taubati. Ia belum berubah. Keadaannya masih sama antara taubat dan tidak taubat. Ini adalah taubat yang dusta atau taubat palsu. Taubat yang demikian tidak bermanfaat sedikit pun bagi pelakunya. Saat beristighfar, wajib menghadirkan kesungguhan dalam hati untuk meninggalkan perbuatan dosa. Inilah taubat yang nasuha.

Wajib bagi kita semua untuk memperbanyak istighfar dan menjauhi dosa-dosa yang kita taubati. Kemudian menggantinya dengan perbuatan taat kepada Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqaan: 70)

Jadikanlah taubat dan istighfar kita adalah taubat dan istighfar yang benar sehingga ia tampak dalam perbuatan. Ingatlah, bahwasanya Allah sangat mencintai dan suka kepada hamba-Nya yang bertaubat. Lebih suka daripada syukur seorang hamba. Walaupun ucapan syukur itu begitu mendalam karena mendapatkan anugerah yang sangat dibutuhkan.

Bertakwalah kepada Allah. Bersegeralah bertaubat. Pintu taubat akan senantiasa terbuka hingga nyawa berada di kerongkongan atau matahari terbit dari arah barat kelak. Pada saat itu, maka pintu taubat telah tertutup. Tidak diterima lagi taubat seseorang dari dosa yang ia lakukan. Allah berfirman,

“Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula).” (QS. Al-An’am: 158)

Mari bersegera bertaubat. Mengulang-ulangnya. Istiqomah di jalannya selamanya. Dengan itu semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima taubat kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Ada yang dapat Kami bantu ? (Klik saja)